Ternyata bukan kacang metenya, tetapi Ekstrak Biji Jambu Mete sebagai Anti-Diabetic

Ekstrak biji jambu mete berfungsi secara efektif sebagai anti-diabetes, menurut sebuah penelitian baru dari University of Montreal (Canada) dan Université de Yaoundé (Kamerun). Diterbitkan dalam jurnal Molecular Gizi & Makanan Penelitian, penyelidikan dianalisis manfaat kesehatan Jambu mete pada diabetes, terutama ekstrak mete dapat meningkatkan respon tubuh terhadap insulin sendiri (Sugihartono, 2010).

Diabetes adalah suatu penyakit dimana tubuh tidak dapat menghasilkan insulin (hormon pengatur gula darah) atau insulin yang dihasilkan tidak mencukupi atau insulin tidak bekerja dengan baik. Oleh karena itu akan menyebabkan gula darah meningkat saat diperiksa.

Ada 2 jenis tipe utama dalam Diabetes yaitu:

Diabetes tipe 1
Suatu keadaan dimana tubuh sudah sama sekali tidak dapat memproduksi hormon insulin. Sehingga penderita harus menggunakan suntikan insulin dalam mengatur gula darahnya. Sebagian besar penderitanya adalah anak-anak & remaja.

Diabetes tipe 2
Terjadi karena tubuh tidak memproduksi hormon insulin yang mencukupi atau karena insulin tidak dapat digunakan dengan baik (resistensi insulin). Tipe ini merupakan yang terbanyak diderita saat ini (90% lebih), sering terjadi pada mereka yang berusia lebih dari 40 tahun, gemuk dan mempunyai riwayat diabetes dalam keluarga.

Dari semua ekstrak yang diuji hanya ekstrak biji mete secara signifikan mendorong penyerapan gula darah oleh sel otot. Ekstrak dari bagian-bagian tanaman lainnya tidak memiliki efek seperti itu, menunjukkan bahwa ekstrak biji mete kemungkinan mengandung senyawa aktif, yang dapat memiliki sifat anti-diabetes potensial.

Produk pohon Jambu telah lama diduga menjadi agen anti-inflamasi yang efektif, gula darah counter tinggi dan mencegah resistensi insulin antara penderita diabetes. Penelitian itu memvalidasi penggunaan cara tradisional produk pohon jambu mete pada diabetes dan menunjuk ke sebagian komponen alam yang dapat berfungsi untuk membuat terapi oral baru (Sugihartono, 2010).

By | 2013-04-27T16:24:36+00:00 April 27th, 2013|Info|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment